Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang hadirkan pendekatan pembinaan berbeda melalui program pengolahan limbah karet. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas produktif, tetapi juga menghadirkan ruang pembelajaran yang membentuk cara pandang baru bagi Warga Binaan dalam memaknai proses dan perubahan diri.
Di tengah keterbatasan ruang, limbah karet yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru menjadi media belajar yang sarat makna. Setiap tahapan proses, mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga pembentukan produk, menunjukkan sesuatu yang terbuang pun dapat diolah kembali menjadi bernilai seiring dengan proses yang dijalani Warga Binaan.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menegaskan kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada pengalaman yang dijalani Warga Binaan. “Kami ingin memastikan setiap proses benar-benar dijalani dan dipahami, bukan sekadar diselesaikan. Dari setiap tahapan, Warga Binaan belajar menghadapi proses, menjaga konsistensi, dan melihat bahwa perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi dibentuk dari apa yang mereka kerjakan secara berulang. Di situlah letak nilai yang ingin kami bangun,” tegasnya, Selasa (28/4).
Kegiatan dilakukan secara bertahap dengan pendampingan petugas sehingga menciptakan suasana yang tidak hanya produktif tetapi juga reflektif. Dalam prosesnya, Warga Binaan tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami pentingnya kesabaran, ketekunan, dan konsistensi.
Kepala Bidang Kegiatan Kerja, Lis Susanti, menyampaikan keterlibatan Warga Binaan dalam setiap tahapan kegiatan menunjukkan proses yang berjalan secara konsisten. “Kegiatan ini tidak hanya dijalankan sebagai rutinitas, tetapi sudah membentuk pola kerja yang lebih terstruktur. Warga Binaan terbiasa mengikuti tahapan dengan tertib, memahami alur kerja, dan menjaga kualitas dari setiap proses yang dilakukan,” jelasnya.
Salah satu Warga Binaan berinisial TN mengungkapkan kegiatan ini memberikan pengalaman baru selama menjalani masa pembinaan. “Di sini saya belajar mengikuti setiap tahapan dengan lebih teliti, dari awal sampai akhir tidak bisa dilewati begitu saja. Prosesnya mengajarkan saya untuk lebih sabar dan tidak terburu-buru dalam menyelesaikan sesuatu. Dari situ saya mulai terbiasa bekerja lebih rapi dan memahami hasil yang baik itu datang dari proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh,” ucapnya.
Melalui pendekatan yang menekankan makna di balik proses, Lapas Kelas I Cipinang terus berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya membekali keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran dan kesiapan mental Warga Binaan untuk kembali ke masyarakat. Program ini menjadi upaya mendukung penguatan pembinaan berdampak, selaras dengan arah kebijakan Pemasyarakatan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang produktif dan berdaya guna dalam. Haln ini juga mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pemasaran produk hasil karya Warga Binaan melalui koperasi serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. (IR)








